MA’HAD AL-MUQADDASAH

23 07 2011

MA’HAD AL-MUQADDASAH LI TAHFIZ AL-QURAN

Motto: Menyantrikan Intelek, Mengintelekkan Santri

Nglumpang Mlarak Ponorogo Jawa Timur Indonesia

Telp/ Fax.: 0352-311716

 

Pengenalan

Ma’had al-Muqaddasah adalah lembaga pendidikan Islam swasta yang bertujuan mencetak generasi Qurany. Yaitu generasi yang tidak hanya mampu membaca al-Quran, namun juga mampu memahami serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ma’had al-Muqaddasah diresmikan pada 18 Oktober 1992. Para pengajar pendidikan tahfiz al-Quran adalah alumni ma’had tahfiz al-Quran dari pelbagai daerah di Indonesia. Di antaranya dari kota Malang, Kudus, Jepara, Pati, Sulawesi, Bogor, Demak, Purwodadi dan lain-lain. Sedangkan pengajar pendidikan formal Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah para alumni dari pelbagai perguruan tinggi dan alumni pondok modern Darussalam Gontor Ponorogo.

Sejak berdiri hingga kini, ma’had al-Muqaddasah telah melahirkan alumni-alumni yang hafiz dan hafizah, tersebar di pelbagai provinsi di Indonesia. Serta melanjutkan ke perguruan-perguruan tinggi di dalam dan luar negeri di antaranya adalah Lembaga Ilmu Pengetahuan dan Bahasa Arab (LIPIA) Jakarta, Pergurutan Tinggi Ilmu al-Quran (PTIQ) Jakarta, Institut Ilmu-ilmu al-Quran (IIQ) Jakarta, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Brawijaya Malang, Institut Studi Islam Darussalam (ISID Gontor), Universitas al-Azhar Cairo Mesir, Universitas Turkey, Universitas Islam Internasional Madinah al-Munawwarah, dan lain-lain.

 

Aktifitas-aktifitas

Aktifitas Harian

03.30 – 04.45

Bangun pagi, mandi, shalat Subuh

04.45 – 07.00

Tasmi’ (dengar), tambahan hafalan al-Quran

07.00 – 07.30

Sarapan pagi dan persiapan masuk sekolah

07.30 – 11.45

Belajar dalam kelas (SD, SMP, SMA)

11.45 – 14.30

Shalat Zuhur, makan siang dan tidur siang

14.30 – 15.30

Mandi, shalat Ashar

15.30 – 17.00

Tasmi’ hafalan, bacaan dan mudarrasah

17.00 – 17.30

Istirahat sore

17.30 – 18.00

Shalat Maghrib

18.00 – 20.00

Tasmi’ hafalan, bacaan dan mudarrasah

20.00 – 21. 00

Shalat ‘Isya dan makan malam

21.00 – 22.00

Belajar malam

22.00 – 03.30

Tidur malam
Aktifitas Mingguan

Sabtu Siang

Latihan kepramukaan

Sabtu Malam

Mudarrasah dan muhadoroh (latihan pidato)

Ahad Pagi

Olah raga, kerja bakti, mudarrasah, sima’an al-Quran 30 juz

Ahad Sore

Latihan ekstra kurikuler (marching band, hadrah, angklung dan lain-lain)

Senin Sore

Pelajaran Diniyah

Kamis Malam

Membaca Yasin dan Shalawat Nabi SAW.
Aktifitas Libur Semester
Kompetisi antar kelompok muhadarah (lomba pidato)
Pekan Perkemahan
Perlombaan
Aktifitas Musiman/ Insidentil
Penyembelihan hewan qurban
Peringatan hari besar Islam
Rekreasi
Tata Tertib

1

Santri baru boleh dikunjungi setelah 2 bulan tinggal di asrama

2

Kesempatan untuk mengunjungi santri hanya satu bulan satu kali

3

Segala urusan yang berkaitan dengan santri wajib melalui bagian pengasuhan santri dan pembimbing

4

Orangtua/ wali murid tidak dibenarkan memberikan uang kepada santri melebih Rp5000

5

Santri tidak dibenarkan membawa alat elektronik, barang berharga atau berbahaya

6

Santri wajib berbusana muslim (menutup aurat)

7

Pakaian yang dibenarkan;
2 pasang seragam sekolah (SD/ SMP/ SMA)
2 pasang seragam Pramuka
1 pasang seragam ma’had
1 pasang seragam olah raga
5 pasang pakaian harian sederhana
3 helai sarung dan baju muslim
2 helai mukena (bagi santriah)
1 pasang seragam hitam putih

SYARAT-SYARAT PENDAFTARAN

Syarat-syarat umum

1

Minimal berusia 6 tahun

2

Berbadan sehat, cerdas dan tidak ngompol

3

Sanggup tinggal di asrama selama masa pendidikan

4

Tidak cacat jasmani dan rohani

5

Niat ikhlas dan sanggup mengaji serta belajar dengan sungguh-sungguh

6

Diantar langsung oleh orangtua atau wali yang bertanggung jawab

7

Menandatangani surat permohonan dan surat pernyataan bermaterai

8

Mengikuti ujian masuk yang meliputi;
Ujian Lisan: Membaca al-Quran, Praktek Ibadah Harian dan Wawancara
Ujian Tulis: Tes IQ, Bahasa Indonesia dan Berhitung
Wawancara untuk orang tua/ wali murid
Syarat-syarat Khusus

1

Mengisi formulir pendaftaran

2

5 lembar pas photo 3X4

3

3 lembar salinan (photocopy) STTB dan STK yang telah dilegalisir (untuk SMP/ SMA)

4

2 lembar salinan (photocopy) Akte Kelahiran

5

3 lembar salinan (photocopy) Kartu Tanda Penduduk (KTP) orang tua/ wali murid

6

Menyerahkan Rapor/ surat keterangan pindah (bagi santri yg diterima)

7

Menyerahkan Nomor Induk Siswa Nasional (NISN) dari sekolah asal

8

Menyerahkan surat keterangan sehat dari dokter (diurus di klinik al-Muqaddasah)

9

Melunasi biaya administrasi

 

BIAYA PENDIDIKAN

A. Rincian Biaya Pendidikan

Dalam Rupiah

1

Pendaftaran

100.000

2

Pangkal

550.000

3

Sumbangan Pemeliharaan Masjid

100.000

Jumlah

750.000

B. Rincian Iuran Tahunan (daftar ulang)

1

Sumbangan Pembangunan Gedung Kampus

275.000

2

Infaq Perluasan Tanah Wakaf

200.000

3

Sewa Lemari 1 tahun

75.000

4

Pengadaan & Pemeliharaan Komputer

150.000

Jumlah

700.000

C. Rincian Iuran Bulanan

1

Pendidikan

35.000

2

Pemeliharaan Kampus

50.000

3

Kesantrian

50.000

4

Kesehatan

25.000

5

Uang saku

55.000

6

Makan

185.000

Jumlah

400.000

 

 

D. Perlengkapan

1

Santri (lelaki);
1 Pasang seragam ma’had

80.000

1 pasang seragam olah raga ma’had

75.000

Jumlah

155.000

2

Santriah (perempuan);
1 pasang seragam ma’had

80.000

1 pasang seragam olah raga ma’had

85.000

Jumlah

165.000

3

Kasur dan sprei

185.000

E. Lain-lain

1

Tabungan santri wajib (minimal)

185.000

F. Jumlah Keseluruhan

1

Santri Baru

2.490.000

2

Santriah Baru

2.500.000

3

Santri/ah Lama

1.400.000

Catatan:

  1. Biaya Pendidikan dapat berubah sewaktu-waktu
  2. Keperluan tambahan disediakan di Koperasi Santri (KOPSAN)
  3. Segala pertanyaan dan informasi, dapat menghubungi pihak administrasi

Waktu Pendaftaran

  1. Pendaftaran dimulai dari tanggal 1 hingga 7 Juli setiap tahun.
  2. Pendaftaran bertempat di kantor Panitia Pendaftaran.
  3. Ujian lisan dan tulis hanya diadakan satu gelombang (bila kuota sudah penuh maka pendaftaran akan ditutup).

Untuk unduh/ download informasi ini dalam bentuk pdf, silahkan klik DISINI.

Diketik ulang dari Brosur Ma’had al-Muqaddasah li Tahfiz al-Quran

dan disebarluaskan untuk keperluan masyarakat

Facebook: Margono Muhadi

Email: margonomuhadi@gmail.com





SYA’BAN: WHAT AND HOW?

26 07 2010

Sya’ban telah menjelang dan bulan Ramadhan benar-benar telah ada di hadapan. Mari kita mempersiapkan diri menyambut bulan mulia itu dengan memperbanyak amal di bulan Sya’ban. Rasulullah SAW dan menjelaskan kepada kita secara khusus tentang keutamaan bulan sya’ban. Suatu ketika Usamah bin Zaid  bertanya pada beliau : “ Wahai Rasulullah, aku belum pernah melihatmu berpuasa pada sebuah bulan yang lebih banyak dari puasamu di bulan sya’ban ? “. Maka Rasulullah SAW menjawab :  “ (Sya’ban) itu adalah bulan yang kebanyakan manusia melalaikannya. antara Rojab dan Ramadhan. Sya’ban adalah bulan dimana amalan-amalan diangkat menuju sisi Tuhan Semesta Alam, dan aku suka ketika amal-amalku diangkat, saat aku dalam keadaaan berpuasa “ (HR Nasa’i).

Salah satu  amalan yang dianjurkan dalam bulan Sya’ban adalah berpuasa sunnah. Setidaknya ada tiga hal yang perlu kita perhatikan seputar pelaksanaan puasa sunnah dalam bulan Sya’ban.

Pertama : Membayar Hutang Puasa terlebih dahulu
Bagi mereka yang masih mempunyai tanggungan puasa Ramadhan tahun sebelumnya, mungkin karena perjalanan (safar), sakit, atau secara umum bagi kaum wanita, maka bulan Sya’ban ini waktu yang tepat untuk segera melunasinya. Hal ini juga menjadi pertanda komitmen kita dan kesiapan untuk kembali menjalani puasa Ramadhan. Diriwayatkan dalam Shahih Bukhori, bagaimana Aisyah binti Abu Bakar ra, istri Rasulullah SAW pun baru bisa mengganti hutang puasanya di bulan Sya’ban, karena kesibukannya dalam membantu Rasulullah SAW . Mari kita mengingatkan anak, istri, dan keluarga kita dalam hari-hari Sya’ban ini untuk mengganti hutang puasa mereka.

Kedua : Memperbanyak Puasa Sunnah

Setelah menyelesaikan kewajiban, maka dianjurkan bagi kita untuk memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban. Rasulullah SAW telah memberikan contoh begitu jelas pada kita betapa beliau lebih mengintensifkan puasa sunnah di bulan Sya’ban. Aisyah Ra berkata : “ saya tidak pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa sebulan penuh, kecuali bulan Ramadhan. Dan saya tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak dari bulan lainnya kecuali pada bulan Sya’ban” (HR Bukhori dan Muslim)
Puasa Sya’ban adalah persiapan untuk menjalani puasa Ramadhan. Bagi kita ini persiapan semacam ini tentu menjadi sangat penting, khususnya banyak dari kita yang melewati satu tahun dengan penuh kesibukan hingga jarang melakukan puasa sunnah.

Ketiga : Tidak berpuasa di akhir Sya’ban

Meskipun secara umum kita dianjurkan untuk memperbanyak puasa sunnah, namun syariat kita membatasi dan mengingatkan agar tidak menjalankannya di akhir Sya’ban. Bahkan ada juga pendapat yang memakruhkan puasa sunnah setelah lima belas Sya’ban. Akan tetapi larangan ini tidak berlaku bagi mereka yang memang terbiasa melakukan puasa sunnah pada bulan-bulan sebelumnya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah mendahulukan Ramadhan dengan sehari atau dua hari berpuasa kecuali jika seseorang memiliki kebiasaan berpuasa, maka berpuasalah.” (HR. Muslim )

Akhirnya, marilah kita mengajak keluarga kita, saudara dan juga sahabat untuk bersama-sama menjadikan bulan Sya’ban ini sebagai bulan persiapan.  Bukan hanya dengan memperbanyak puasa sunnah, tetapi persiapan keimanan dan keilmuan, kita wujudkan satu demi satu pada hari-hari menjelang kedatangan bulan Ramadhan yang mulia. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan dan keberkahan. Wallahu a’lam.

pasted from: http://www.indonesiaoptimis.com/2010/07/seputar-puasa-syaban.html





PELUANG USAHA BUSANA MUSLIMAH

20 07 2010

http://www.eramuslim.com/berita/info-bisnis/jeli-melihat-peluang-pasar-ukhti-collection-rangkul-konsumen-hingga-ke-negeri-jiran.htm.

http://www.eramuslim.com/berita/info-bisnis/ranti-23-tahun-jadi-pionir-bisnis-busana-muslim.htm

http://www.eramuslim.com/berita/info-bisnis/jualan-ngumpet-untung-berlipat.htm





ISTIKHARAH: MENEPIS BINGUNG

20 07 2010

عن جابر بن عبد الله قال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعلمنا الاستخارة كما يعلمنا السورة من القرآن يقول إذا هم أحدكم بالأمر فليركع ركعتين من غير الفريضة ثم ليقل اللهم إني أستخيرك بعلمك وأستقدرك بقدرتك وأسألك من فضلك العظيم فإنك تقدر ولا أقدر وتعلم ولا أعلم وأنت علام الغيوب اللهم إن كنت تعلم هذا الأمر فيسميه ما كان من شيء خيرا لي في ديني ومعاشي وعاقبة أمري أو خيرا لي في عاجل أمري وآجله فاقدره لي ويسره لي وبارك لي فيه وإن كنت تعلم يقول مثل ما قال في المرة الأولى وإن كان شرا لي فاصرفه عني واصرفني عنه واقدر لي الخير حيثما كان ثم رضني به

Maksudnya : Dari jabir Bin Abdullah ra katanya: Adalah nabi saw mengajar kami untuk beristikharah dalam semua perkara sebagaimana baginda mengajar kami surah yang ada dalam Al Quran, baginda bersabda : Apabila salah seorang dari kamu berhasrat untuk melakukan sesuatu perkara maka hendaklah dia solat dua rakaat yang bukan fardhu seraya berdoa (selepas salam):

ليقل اللهم إني أستخيرك بعلمك وأستقدرك بقدرتك وأسألك من فضلك العظيم فإنك تقدر ولا أقدر وتعلم ولا أعلم وأنت علام الغيوب اللهم إن كنت تعلم هذا الأمر فيسميه ما كان من شيء خيرا لي في ديني ومعاشي وعاقبة أمري أو خيرا لي في عاجل أمري وآجله فاقدره لي ويسره لي وبارك لي فيه وإن كنت تعلم يقول مثل ما قال في المرة الأولى وإن كان شرا لي فاصرفه عني واصرفني عنه واقدر لي الخير حيثما كان ثم رضني به عن عائشة عن أبي بكر الصديق أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا أراد أمرا قال اللهم خر لي واختر لي

Maksudnya : Dari Aisyah ra meriwayatkan dari Abu Bakr assiddiq bahawa nabi saw apabila hendak melakukan sesuatu perkara, baginda berdoa : Ya Allah berilah kebaikan padaku dan pilihlah untuk ku

عن جابر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا استشار أحدكم أخاه فليشر عليه

Maksudnya: Dari Jabir ra katanya Nabi SAW bersabda : Apabila salah seorang dari kamu meminta nasihat dari salah seorang saudaranya hendaklah (saudara tadi) memberi nasihat (pandangan) 2. Beberapa Salah Faham Dalam Konsep Istikharah Pertama: Kebanyakan kita beranggapan bahawa solat Istikharah hanya dilakukan tatkala teragak-agak dalam memilih antara dua perkara. Sebenarnya ini kurang tepat kerana nabi Saw menyatakan dalam hadis: Perkataan yang Nabi saw yang digunakan ialah ” هم” yang bermaksud hasrat, dan bukannya ” تردد” ( teragak-agak). Perkataan ” همّ” adalah tahap sebelum ” عزم”(keinginan kuat) Apabila mana-mana individu yang ingin melakukan sesuatu pekerjaan, yang mana dia tiada pilihan lain, ini bermakna dia telah berhasrat (همّ) untuk melakukan perkara tersebut, dengan itu bolehlah dia beristikharah kemudian laksanakanlah perkara tadi. Begitulah sebaliknya, jika dia ingin meninggalkan sesuatu perkara yang tiada pilihan untuknya, maka beristikharahlah dahulu kemudian tinggalkan perkara tersebut Walau bagaimanapun jika individu mempunyai pelbagai pilihan yang dia tidak mampu membuat keputusan, terlebih dahulu dia meminta pandangan yang layak memberi nasihat, kemudian pilihlah salah satu perkara tersebut dan berisitikharah pada satu pilihan tadi. Kedua : Ramai antara kita beranggapan bahawa istikharah hanya dilakukan pada perkara tertentu sahaja contohnya dalam bab nikah kahwin, musafir atau perkara yang ‘grand’, sedangkan dalam Islam, istikharah ini dilakukan pada semua perkara, kecil atau besar. Berdasarkan sabda Nabi SAW : (( كان يعلّمنا الاستخارة في الأمور كلّها(( Maksudnya : adalah dia (Nabi saw) mengajar kami beristikharah dalam semua perkara ( riwayat Tirmizi) Ketiga : Ramai beranggapan bahawa solat istikharah perlu dilakukan dua rakaat secara khusus. Ini juga kurang tepat kerana bersumberkan hadis Nabi saw : (( فليركع ركعتين من غير الفريضة.(( Maksudnya : Maka hendaklah dia tunaikan dua rakaat yang bukan fardhu Penggunaan perkataan “من غير الفريضة”( yang bukan fardhu) mengambarkan makna umum merangkumi semua solat sunat hatta solat tahiyat masjid. Ini bermakna, jika sesorang melakukan solat sunat tahiyat masjid misalnya, selepas salam dia berdoa dengan doa istikharah yang diajar nabi SAW, maka dia telah dianggap beristikharah kepada Allah Keempat : Ada yang beranggapan bahawa, perlu ada ketenangan terhadap sesuatu perkara setelah beristikharah, bagi membolehkannya melakukan perkara tersebut. Ini juga kurang tepat kerana makna asal istikharah ialah pohon kebaikan dari Allah. Ia juga merupakan salah satu konsep tawakal kepadaNYA sekalipun seseorang itu rasa kurang suka terhadap perkara yang hendak dilakukan Sila perhatikan kepada firmanAllah SWT: (( وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ)) (البقرة:216) Maksudnya: dan boleh jadi kamu tidak suka sesuatu perakara sedangkan ia baik bagimu dan boleh jadi kamu sukakan sesuatu perkara sedangkan ia tidakelok untuk kamu, dan Allah tahu sedangkan kamu tidak mengetahuinya Salah tanggapan inilah yang menyebabkan ramai mereka di luar sana berkali-kali melakukan istikharah, namun masih teragak-agak untuk membuat keputusan kerana katanya belum tenang hati terhadap perkara tersebut Kemungkinan ada dikalangan kita yang dapat punyai naluri membuat keputusan, ada yang tidak, oleh itu lakukanlah salah satu perkara, walau pun tidak ada gerak hati terhadap mana-mana perkara kerana sebenarnya Allah akan mudahkan apa sahaja pilihannya Kelima : Ada yang beranggapan bahawa perlunya ada mimpi setelah melakukan istikharah, lalu banyak kerja yang tertangguh dek menanti mimpi (atau ilham menurut pandangannya). Apa yang perlu dilakukan olehnya ialah lakukan perkara yang perlu disegerakan setelah beristikharah. Sekiranya dia diberi mimpi baik, itulah “nur” yang dilimpahkan oleh Allah SWT terhadapnya,jika tiada mimpi maka tidak sepatutnya dia menanti sekian lama mimpi itu datang.

+ perbanyaklah membaca doa “Allahumma alhimni rusydi wa a’izni min syarri nafsi.”

+ Selain daripada istikharah, agama juga menyuruh kita istisyarah (mesyuarat), malahan Nabi saw juga disuruh bermesyuarat dengan para sahabat. Maka sebelum kita buat keputusan, elok kita minta pandangan orang lain yang lebih alim, dan lebih pengalaman.

+ Tak semestinya mimpi, adakalanya gerak hati atau peringatan dari org yg kita kenal atau tidak. Ishtikarah ni macam kita bermesyuarat dgn Allah sebelum buat apa2 keputusan. Jadi Allah akan beri jawapan kepada kita dlm apa juga cara.

sumber: murabbi.net





Abu Bakrah perawi hadis

5 07 2010

Abu Bakrah perawi hadis*

BIOGRAFI
nama lengkap Abu Bakrah ialah Nafi’ bin al-Harith bin Kaldah Bin ‘Amr bin Ilaj bin Abi Salamah. Namanya Abd. al-Uzza bin Ghayrah bin Awf bin Qays. Namanya turut dikenali sebagai Masruh. Menurut Ibnu Sa’d, dalam beberapa catatan hadis, ibunya adalah Sumayyah saudara seibu dengan Ziyad bin Abi Sufyan.

Bapanya Abd. al-Harith bin Lakadah. Abu Bakrah pernah mengecapi zaman kanak-kanaknya sewaktu di Taif. Ketika Rasulullah SAW mengepung penduduk kota tersebut, baginda bersabda: “Siapa saja yang datang kepada kami, maka dia bebas (merdeka) daripada penghambaan”.

Baginda memanggilnya dengan nama Abu Bakrah. Menurut Ibnu Abd al-Bar, al-Hasan al-Basri salah seorang ulama tabien terkemuka, mengatakan, “Tidak ada seorang sahabat pun dari kalangan sahabat Rasulullah SAW yang tinggal di Basrah lebih mulia dibandingkan dengan Imran bin al-Husayn dan Abu Bakrah r.a. Beliau mempunyai banyak pengikut dan merupakan orang terhormat di Basrah”.

Sifat keadilan Abu Bakrah

Ibnu Hajar sebagaimana memetik ungkapan al-’Ijli mengenai Abu Bakrah, “Abu Bakrah r.a. merupakan antara sebaik-baik sahabat”. Abu Nu’aym al-Asbahani mengatakan: “Abu Bakrah merupakan seorang lelaki yang soleh dan warak. Nabi SAW telah mempersaudarakan antara beliau dan Abi Barzah”.

Persaksian Al-Mughirah Ibnu Shu’bah

Riwayat tentang peristiwa kesaksian dan hukuman sebat ke atas Abu Bakrah pada zaman Umar al-Khattab banyak dimuatkan oleh ulama sejarah mahupun ulama tafsir, seperti al-Tabari, dalam kitab tarikh atau tafsirnya. Demikian juga Ibnu Sa’d dalam al-Tabaqat al-kubranya dan Ibnu Abd. al-Barr dalam al-Isti’ab fi ma’rifat al-ashab.

Dalam catatan ahli sejarah, sebagaimana dikutip oleh al-Tabari daripada al-Waqidi, Abu Bakrah pernah bersumpah menyaksikan perbuatan sumbang al-Mughirah bin Shu’bah r.a, yang merupakan salah seorang sahabat Rasulullah SAW ketika sama-sama tinggal di Basrah.

Kedua-duanya adalah jiran yang terpisah oleh sebuah jalan. Al-Mughirah ditemui oleh Abu Bakrah dan beberapa sahabat sedang berada di bawah kedua kaki seorang wanita.

Beliau kemudian meminta mereka memberi kesaksian dan mereka sepakat bahawa perempuan itu adalah Umm Jamil dari suku Amir bin Sa’sa’ah yang sememangnya telah lama menyimpan perasaan dengan al-Mughirah.

Nama Umm Jamil ialah Umm Jamil binti Amr bin al-Afqamal Hilaliyah. Suaminya bernama al-Hajjaj ibnu Atiq ibnu al-Harith ibnu Awf ibnu Wahb ibnu Amr al-Jashimi. (al-Asqalani, Ahmad ibnu Ali ibnu Hajar, al-Isabah, 2: 33).

Kejadian ini berlaku pada zaman pemerintahan Umar al-Khattab. Setelah mendengar kes ini, Umar mengutuskan Abu Musa al-Ash’ari ke Basrah. Abu Musa tidak bersedia berangkat seorang diri kerana khuatir adanya subahat dan sebagainya.

Justeru, beliau meminta keizinan Umar untuk membawa bersamanya 29 orang sahabat. Mereka ialah Anas bin Malik, Imran bin Husayn, dan Hisham bin Amir. Sementara al-Mughirah, Abu Bakrah, Shibl bin Ma’bad al-Bajali dan Ziyad kemudian berangkat ke Madinah untuk menemui Umar bin al-Khattab.

Setibanya mereka di hadapan Umar, Abu Bakrah menerangkan kesaksiannya. Kemudian dua daripada tiga saksi yang ada, iaitu Nafi’ dan Shibl bin Ma’bad al-Bajali, memberi kesaksian bahawa apa yang dikatakan oleh Abu Bakrah adalah benar; sedangkan Ziyad menyatakan penyaksian yang berbeza.

Oleh kerana kesaksian ini dianggap tidak cukup, Umar menjatuhkan hukuman sebat ke atas Abu Bakrah, Nafi dan Shibl. Mereka kemudian diperintahkan bertaubat. Dua di antaranya, selain Abu Bakrah, telah bertaubat. Sebaliknya Abu Bakrah tidak bersedia sambil menyatakan, “Engkau meminta aku bertaubat semata-mata agar engkau dapat menerima kesaksianku?”

Umar menjawab: “Benar”. Abu Bakrah membalas kata Umar, “Aku wajib untuk tidak bersaksi antara dua perkara (antara kebenaran dan kesalahan) dalam kes al-Mughirah, selama aku masih hidup”.

Keputusan Umar tidak menerima kesaksian Abu Bakrah tidak menghilangkan kredibiliti keadilan Abu Bakrah sebagai perawi. Hukum tersebut berkaitan dengan kesaksian Abu Bakrah bukan periwayatannya.

Malah ia berkaitan dengan hukum penolakan kesaksiannya akibat ketidakcukupan jumlah serta ketidaksediaan beliau menarik balik kesaksiannya dan bertaubat di hadapan Umar yang menjadi hakim ketika itu.

Pada masa yang sama, keputusan Abu Bakrah juga merupakan hukuman yang dipilih oleh beliau. Lebih baik daripada melakukan pembohongan kepada Allah SWT meskipun kesaksiannya akan diterima kembali.

Sebagaimana kejadian ke atas Abu Bakrah, peristiwa tersebut juga jelas tidak menggugat kredibiliti al-Mughirah sebagai sahabat. Sifat adl al-Mughirah ibn Shu’bah juga tetap terpelihara kerana persaksian Abu Bakrah, Nafi’ dan Shibl adalah tidak tepat.

Al-Sheikh al-Amin al-Shanqiti mengatakan wanita yang dilihat berada bersama al-Mughirah ibnu Shu’bah ketika angin membuka pintu rumah tersebut ialah isteri al-Mughirah. Kebetulan, wajah isteri al-Mughirah menyerupai seorang wanita lain yang sering dilihat mengunjungi para pemimpin yang lain.

Maka mereka membuat andaian bahawa isteri al-Mughirah adalah wanita yang sama tanpa bertujuan buruk, namun sangkaan tersebut adalah salah. Al-Mughirah tidak melakukan sebarang kemungkaran kerana para sahabat Nabi SAW terkenal dengan naluri dan penghayatan iman yang tinggi. Sehingga mereka mampu mencegah diri mereka daripada sesuatu kemungkaran. Sesungguhnya hanya Allah yang mengetahui hakikat yang sebenar.

Periwayatan hadis

Sheikh Muhammad al-Amin al-Shanqiti menegaskan, ulama bersepakat menerima periwayatan Abu Bakrah walaupun beliau dihukum oleh Umar al-Khattab atas persaksiannya tentang perlakuan zina al-Mughirah.

Sealiran pendapat dengan gurunya Abd. Al-Muhsin al-Abbad membuat rumusan antaranya pertama, para ulama Muslimin sama ada salaf atau khalaf sekian lama telah bersepakat menerima periwayatan Abu Bakrah.

Kedua, tuduhan qazaf dengan menggunakan lafaz menghina seperti wahai penzina atau seumpamanya menyebabkan persaksian dan periwayatan seseorang itu tertolak melainkan sekiranya bertaubat dan berlaku baik dan hal ini tidak berlaku pada Abu Bakrah.

Tambahan Abd. Al-Muhsin, Sheikh Ala’ al-Din al-Muglatai dalam kitab Ikmal tahdhib al-kamal jilid 12 halaman 77 menyebut, tidak ada seorang pun di kalangan tabien atau selepas mereka yang melarang periwayatan Abu Bakrah dan berhujah dengannya.

Justeru tidak dijumpai seorang pun perawi hadis yang mentajrihkan Abu Bakrah berkenaan kisah persaksian beliau dalam kes al-Mughirah. Ibnu Qudamah pula dalam kitab Rawdat al-nazir wa jannat al-manazir jilid 1 halaman 303 mengatakan di dalam perkara qazaf jika berlaku dengan lafaz persaksian maka perkhabaran (periwayatannya) tidak ditolak.

Dalam kisah Abu Bakrah kekurangan bilangan saksi bukanlah kehendaknya. Sehubungan itu ramai perawi menerima dan meriwayatkan hadis daripada beliau. Al-Imam al-Ala’i dalam kitab Tahqiq munif al-rutbah liman thabata lahu sharif al-suhbah berkata, ulama-ulama usul al-fiqh dalam membahaskan kisah Abu Bakrah, mereka berpandangan bahawa apa yang berlaku ke atas Abu Bakrah dan sahabat-sahabatnya tidak mencacatkan sifat adl (keadilan) mereka sebagai sahabat Rasulullah SAW.

Periwayatan hadis Abu Bakrah adalah sepertimana periwayatan para sahabat Rasulullah yang lain. Penerimaan periwayatan Abu Bakrah terbukti apabila periwayatannya diriwayatkan oleh para ulama dan mukharrij hadis terkemuka seperti al-Imam al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Tirmidzi, al-Nasai dan Ibn Majah.

Riwayat Abu Bakrah terkumpul di dalam keenam-enam kitab ini sebanyak 55 hadis, dan disebut oleh al-Mizzi di dalam Tuhfat al-Ashraf dari hadis 11654 hingga hadis 11708, al-Imam Ahmad mengeluarkan hadis Abu Bakrah di dalam Musnadnya sebanyak 152 secara berulang, hadis 20,373 hingga hadis 20,524.

Abu Bakrah tidak hanya meriwayatkan satu hadis sebaliknya beliau meriwayatkan 14 hadis yang dimuatkan al-Imam al-Bukhari dan Muslim dalam kitab sahih mereka. Hadis yang diriwayatkan secara bersama-sama al-Imam Muslim adalah lapan hadis, lima hadis diriwayatkan oleh al-Bukhari dan satu hadis diriwayatkan oleh Muslim.

Justeru adalah tidak tepat untuk menolak periwayatan hadis Abu Bakrah (sebagaimana yang dilakukan oleh Fatima Mernissi, seorang aktivis feminisme liberal kelahiran Maghribi dengan melakukan kritikan terhadap periwayatan Abu Bakrah. Mernissi mendakwa bahawa Abu Bakrah meriwayatkan hadis yang berunsur ‘anti wanita’ dan bermotifkan kepentingan peribadi).

Kewafatan

Para ulama berbeza pendapat tentang tarikh kewafatannya. Al-Mada’ini mengatakan Abu Bakrah wafat pada tahun 50H. Sa’d pula mengatakan Abu Bakrah wafat di Basrah sewaktu pemerintahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

Para ulama berpendapat bahawa Abu Bakrah wafat pada tahun 51H sementara Ibnu Khayyat dalam kitab al-Tabaqat berpendapat Abu Bakrah wafat pada tahun 52H.

*
Oleh MOHD. NORZI NASIR
sumber:

http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2009&dt=0730&pub=Utusan_Malaysia&sec=Bicara_Agama&pg=ba_04.htm








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.