ADAB DI PENGAJIAN HADIS

Para ulama sejak zaman shahabat sampai kepada zaman kita ini selalu memperhatikan adab-adab majelis. Apalagi majelis yang dimaksud adalah majelis pembacaan dan pembahasan hadits. Mereka menjauhi banyak bercanda dan tertawa, bicara kotor dan cabul, perkataan dan syair-syair keji dan dusta. Siapapun yang mengaku salaf atau ahli hadits atau jama’ah tetapi hal-hal yang buruk diatas masih saja ada dalam majelis-majelisnya dengan mengekalkan dan memperbanyaknya maka tidaklah dia termasuk didalamnya. Kalau saja aku tidak malu, akan aku nukilkan contoh-contoh istilah jorok, mesum dan menjijikan yang sering kalangan hizbi sebutkan dan kekalkan itu. Sampai-sampai karena terlalu seringnya, telinga mereka menjadi biasa mendengarnya dan mengucapkannya seolah tidak tercela.

Abu Bakar Ad-Dainuri rahimahullahu mengatakan,

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ ، نَا الْحَرْبِيُّ ، نَا أَبُو نَصْرٍ ، عَنِ الْأَصْمَعِيِّ ، عَنْ أَبِيهِ ؛ قَالَ : قَالَ الْأَحْنَفُ بْنُ قَيْسٍ : جَنِّبُوا مَجَالِسَنَا ذِكْرَ النِّسَاءِ وَالطَّعَامِ فَإِنِّي أُبْغِضُ الرَّجُلَ أَنْ يَكُونَ وَصَّافًا لِفَرْجِهِ وَبَطْنِهِ

Menceritakan kepada kami Ahmad, menceritakan kepada kami Al-Harbi, menceritakan kepada kami Abu Nashr dari Al-Ashma’i dari Bapaknya yang berkata, telah berkata Al-Ahnaf bin Qois rahimahullahu (Seorang Tabi’in), “Jauhkanlah majelis kita dari membicarakan wanita dan makanan karena aku benci seseorang yang suka membicarakan masalah kemaluan dan perutnya”. [Al-Majalisah wa Jawahir Al-Ilmu (no. 644 – Tahqiq Masyhur Hasan Salman), atsar ini dalam Tarikh Damasyq Ibnu Atsakir (24/346), dikutip pula oleh Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam An-Nubala’ (4/94)].

Yang dimaksud adalah membicarakan wanita dan makanan dalam makna hawa nafsu dan keduniaan, bukan larangan membicarakan dalam masalah fiqh dan hukum syari’at.

Al-Khatib al-Baghdadi rahimahullahu berkata,

يجب على طالب الحديث أن يتجنب اللعب والعبث والتبذل في المجالس بالسخف ، والضحك ، والقهقهة ، وكثرة التنادر ، وإدمان المزاح والإكثار منه ، فإنما يستجاز من المزاح يسيره ونادره وطريفه الذي لا يخرج عن حد الأدب وطريقة العلم ، فأما متصله وفاحشه وسخيفه وما أوغر منه الصدور وجلب الشر ؛ فإنه مذموم وكثرة المزاح والضحك يضع من القدر ، ويزيل المروءة

“Wajib bagi penuntut ilmu hadits untuk menghindari suka bermain, berbuat yang sia-sia dan bersikap rendah dalam majelis ilmu, banyak tertawa, membuat-buat lelucon, dan memperbanyak senda gurau. Senda gurau itu hanya diperbolehkan kalau dilakukan sesekali saja dan tidak sampai keluar dari adab dan sopan santun dalam menuntut ilmu. Adapun kalau dilakukan secara terus-menerus (mengekalkannya), menyebut-nyebut ucapan kotor, jorok, serta apa saja yang bisa menyakitkan dan mengotori hati, semua itu adalah perbuatan tercela. Bahkan banyak senda gurau dan tertawa akan menghilangkan kewibawaan dan harga diri.” (Al-Jaami’ li Ahlaq Ar-Rawi wa Adab As-Sami’ setelah atsar no. 211).

Imam Ibnu Majah rahimahullahu mengatakan,

حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ خَلَفٍ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ الْحَنَفِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حُنَيْنٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

Menceritakan kepada kami Bakr bin Khalaf, menceritakan kepada kami Abu Bakar Al-Hanafi, menceritakan kepada kami Abdul Hamid bin Ja’far dari Ibrohim bin Abdullah bin Hunain dari Abu Hurairoh yang berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kalian memperbanyak tertawa karena memperbanyak tertawa bisa mematikan hati”. (Sunan Ibnu Majah no. 4193).

Al-Bushairi rahimahullahu (4/233) berkata, “Hadits ini isnadnya shahih”.

Imam Tirmidzi rahimahullahu mengatakan,

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِى عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ عَنِ ابْنِ أَبِى مُلَيْكَةَ عَنْ يَعْلَى بْنِ مَمْلَكٍ عَنْ أُمِّ الدَّرْدَاءِ عَنْ أَبِى الدَّرْدَاءِ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَا شَىْءٌ أَثْقَلُ فِى مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَإِنَّ اللَّهَ لَيَبْغَضُ الْفَاحِشَ الْبَذِىءَ ». قَالَ أَبُو عِيسَى وَفِى الْبَابِ عَنْ عَائِشَةَ وَأَبِى هُرَيْرَةَ وَأَنَسٍ وَأُسَامَةَ بْنِ شَرِيكٍ. وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Menceritakan kepada kami Ibnu Umar, menceritakan kepada kami Sufyan menceritakan kepada kami Amru bin Dinar dari Ibnu Abi Mulaikah dari Ya’la bin Mamlak dari Ummu Darda dari Abu Darda, sesungguhnya Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin di hari Kiamat melainkan akhlak yang baik, dan sesungguhnya Allah sangat membenci orang yang suka berbicara keji dan kotor.” Berkata Abu Isa, ”Dalam bab ini terdapat hadits serupa dari Aisyah, Abu Hurairoh, Anas dan Usamah bin Syarik. Dan hadits ini hasan shahih”. (Sunan Tirmidzi no. 2002, lihat Silsilatul Ahadiits ash-Shahihah (no. 876)).

Al-Khatib al-Baghdadi rahimahullahu berkata,

أخبرنا أبو بكر أحمد بن محمد بن أحمد بن غالب الخوارزمي ، أنا أبو الفضل محمد بن عبد الله بن خميرويه الهروي ، أنا الحسين بن إدريس ، نا ابن عمار ، نا المعافى ، عن مالك بن أنس ، قال : قال ابن سيرين : كانوا يتعلمون الهدي كما يتعلمون العلم

Mengkhabarkan kepada kami Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Ghalib al-Khawarazami, mengkhabarkan kepada kami Abu Al-Fadhl Muhammad bin Abdullah bin Khumairawaih Al-Harawi, mengkhabarkan kepada kami Al-Husein bin Idris, menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ammar, menceritakan kepada kami Al-Ma’afiy dari Malik bin Anas yang berkata bahwa Muhammad bin Sirrin berkata: “Mereka (Para sahabat dan tabi’in) dahulu mempelajari budi pekerti sebagaimana mempelajari ilmu”. (Jami’ li Akhlaqir-Rawi wa Adabis-Sami’ no. 9).

Hanya kepada Allah lah kami memohon pertolongan.

 

sumber: http://rumahku-indah.blogspot.com